Home / Berita Umum / Pasangan Buruh Gendong Di Banjarnegara Akhirnya Naik Haji

Pasangan Buruh Gendong Di Banjarnegara Akhirnya Naik Haji

Pasangan Buruh Gendong Di Banjarnegara Akhirnya Naik Haji – Mimpi Suparmo (51) serta istrinya, Ginah (48) pergi ke tanah suci telah di muka mata. Pasangan suami istri yang sehari-harinya kerja jadi buruh panggul serta gendong ini seperti tak yakin bila tahun ini akan jalankan beribadah haji.

Tempat tinggalnya ada ditengah-tengah kebun salak, persisnya di Dusun Celah, Desa Pakelen, Kecamatan Madukara Kabupaten Banjarnegara. Cuma ada satu jalan sempit dengan lebar lebih kurang 1 mtr. sebagai akses cuma satu ke arah rumah Suparmo.

Suparmo bersama-sama istri terhimpun dalam group terbang 74 serta akan pergi ke asrama haji di Donohudan Solo 27 Juli 2019 kelak. Akan tetapi, hingga sampai sekarang ini mereka masih mengerjakan aktivitas seperti biasa yaitu jadi buruh panggul serta gendong.

Suparmo sehari-harinya kerja jadi buruh panggul kayu albasia. Kayu yang telah dipotong-potong dibawa dari kebun sampai diangkut ke truk. Adakalanya dia pula menanggung salak waktu musim panen.

“Untuk cost ‘manggul’ kayu Rp 30 ribu namun masih kotor. Jika jaraknya dekat dapat beberapa kali. Sedang untuk mikul salak ongkosnya Rp 6 ribu untuk dua keranjang,” kata kakek dua cucu ini waktu dijumpai di tempat tinggalnya, Sabtu (6/7/2019).

Sepasang buruh panggul, Suparmo serta istrinya Ginah.Sepasang buruh panggul, Suparmo serta istrinya Ginah.

Sedang istrinya pula lakukan hal sama. Dia kerja menggendong salak dari kebun sampai ke pengepul. Gajinya lebih dikit, karena dia cuma kuat bawa satu keranjang.

“1 kali gendong Rp 3 ribu, sebab memang kuatnya satu keranjang digendong,” kata Ginah.

Pekerjaan ini telah dilakukannya mulai sejak kecil. Bahkan juga, Ginah akui impian untuk pergi beribadah ke tanah suci pertama-tamanya dilemparkan di celah dia menggendong salak pada awal tahun 2000 yang lalu.

“Dahulu saya sudah pernah diberi pertanyaan, rajin ‘nggendong’ salak ingin buat apa?. Lantas tiada banyak fikir saya jawab untuk pergi haji. Alhamdulillah pada tahun 2011 saya dapat daftar haji,” katanya.

Uang tabungannya waktu itu sejumlah Rp 10 juta dibayarkan untuk mendaftarkan haji. Untuk melunasi bekasnya, kedua-duanya menyisihkan penghasilan buruhnya. Penghasilan yang gak semestinya, gak buat surut kemauan mereka untuk terus menabung. Apabila musim panen datang, mereka akui dapat menabung Rp 50 ribu-Rp 100 ribu tiap-tiap harinya.

Upaya menyisihkan uang sedikit-demi dikit selanjutnya terbayar. Meskipun sekarang ini dia akui masih tak yakin bila mimpinya untuk jalankan beribadah rukun Islam ke lima ini akan selekasnya terjadi.

“Rasa-rasanya masih tak yakin, sebab kami kerja jadi buruh gendong serta panggul, namun Alhamdulliah tahun ini dapat pergi. Mudah-mudahan semua lancar,” ujarnya.

About penulis77